sespamardi@gmail.com
Apakah Reksadana Pendapatan Tetap Bisa Rugi? Ini Risiko, Penyebab, dan Cara Menghindarinya

Banyak investor pemula memilih reksadana pendapatan tetap karena dianggap aman, stabil, dan risikonya lebih rendah dibanding saham. Namun, pertanyaan penting sering muncul: apakah reksadana pendapatan tetap bisa rugi? Jawabannya: bisa. Meskipun jarang, penurunan nilai tetap dapat terjadi, terutama saat kondisi pasar obligasi sedang bergejolak.
Pemahaman terhadap risiko ini sangat penting agar kamu tidak salah menilai potensi imbal hasil dan tidak kaget jika NAB turun. Dalam artikel ini, kita akan membahas secara detail bagaimana kerugian bisa terjadi, faktor yang memengaruhi pergerakan NAB, contoh kasus nyata, serta strategi agar investasi tetap aman dan menguntungkan.
Apakah Reksadana Pendapatan Tetap Bisa Rugi?
Jawaban singkatnya: Ya, bisa rugi, meskipun tidak sefluktuatif saham.
Reksadana pendapatan tetap menginvestasikan mayoritas dana pada obligasi pemerintah, obligasi korporasi, dan instrumen pendapatan tetap lainnya. Nilai obligasi bisa naik dan turun tergantung kondisi ekonomi. Karena itu, meski lebih stabil, bukan berarti bebas risiko.
Penyebab Utama Reksadana Pendapatan Tetap Mengalami Penurunan
1. Kenaikan Suku Bunga Bank Indonesia
Obligasi sangat sensitif terhadap perubahan suku bunga. Ketika Bank Indonesia menaikkan suku bunga, harga obligasi di pasar sekunder biasanya turun. Ini terjadi karena investor lebih tertarik pada instrumen baru dengan kupon lebih tinggi, sehingga obligasi lama menjadi kurang menarik.
Contoh nyata:
Saat BI menaikkan suku bunga beberapa kali dalam satu tahun, beberapa reksadana pendapatan tetap mengalami penurunan NAB harian. Penurunannya tidak drastis, tetapi cukup membuat investor panik jika tidak memahami mekanismenya.
2. Penurunan Kinerja Obligasi Korporasi
Jika manajer investasi memegang obligasi perusahaan yang menghadapi kesulitan finansial, nilai instrumen tersebut bisa menurun. Bahkan dalam kasus ekstrem, terjadi gagal bayar.
Skenario nyata:
Jika perusahaan konstruksi besar terlambat membayar kupon atau menghadapi isu utang, reksadana yang memegang obligasinya bisa merosot.
3. Kondisi Makroekonomi Tidak Stabil
Faktor seperti inflasi tinggi, gejolak global, atau ketidakpastian ekonomi dapat menekan pasar obligasi. Investor institusional sering melakukan sell-off, yang membuat harga obligasi turun.
4. Durasi Portofolio yang Terlalu Panjang
Durasi menunjukkan sensitivitas obligasi terhadap suku bunga.
- Durasi pendek → lebih stabil
- Durasi panjang → mudah turun ketika suku bunga naik
Sebagian reksadana pendapatan tetap memegang obligasi jangka panjang agar imbal hasil lebih tinggi, tetapi ini juga menambah risiko volatilitas.
5. Pengelolaan Manajer Investasi
Tidak semua manajer investasi memiliki strategi yang sama.
Jika mereka terlalu agresif memilih obligasi kupon tinggi tetapi berisiko, portofolio lebih mudah tertekan.
Contoh Realistis: Bagaimana Reksadana Pendapatan Tetap Bisa Turun
Bayangkan kamu berinvestasi di reksadana pendapatan tetap yang memegang:
- 60% obligasi pemerintah tenor 10 tahun
- 30% obligasi korporasi
- 10% pasar uang
Dalam tahun itu, BI menaikkan suku bunga sebanyak 2 kali. Obligasi pemerintah dengan tenor panjang paling terdampak. Hasilnya, NAB reksadana yang kamu miliki bisa turun 1–3% dalam beberapa bulan.
Ini bukan kerugian besar, tetapi bagi investor pemula, perubahan kecil tersebut sering dianggap “rugi besar”, padahal pergerakan seperti ini sangat wajar dalam produk berbasis obligasi.
Apakah Reksadana Pendapatan Tetap Aman untuk Jangka Panjang?
Aman, selama kamu memahami risikonya.
Sejarah menunjukkan bahwa reksadana pendapatan tetap cenderung pulih kembali setelah periode penurunan. Obligasi terus memberikan kupon, dan harga biasanya stabil ketika kondisi ekonomi normal.
Strategi terbaik adalah memegangnya 6–24 bulan, bukan hanya beberapa minggu. Investor yang sering panik dan menarik dana terlalu cepat justru lebih sering merugi.
Di balik risikonya, instrumen ini tetap menarik karena:
- Memberikan imbal hasil lebih tinggi dibanding reksadana pasar uang
- Volatilitas lebih rendah daripada reksadana saham
- Cocok untuk investor dengan tujuan jangka menengah
- Manajer investasi mengelola dan melakukan analisis profesional
- Likuid dan mudah dicairkan
Reksadana pendapatan tetap memang lebih stabil daripada instrumen lain, tetapi tetap memiliki potensi kerugian dalam situasi tertentu. Investor yang memahami cara kerja obligasi, mempelajari portofolio, dan memilih manajer investasi yang berkualitas akan lebih siap menghadapi fluktuasi.
Jika tujuanmu membangun kekayaan jangka menengah dengan risiko moderat, instrumen ini tetap menjadi pilihan yang menarik. Pelajari karakteristiknya, gabungkan dengan strategi yang tepat, dan jadikan reksadana pendapatan tetap sebagai bagian dari portofolio sehat yang terus bertumbuh.



