skip to Main Content
1-800-987-654 admin@totalwptheme.com Open 7AM - 8PM

Jelaskan Pengertian Halalan Thayyiban

Jelaskan pengertian halalan thayyiban | Seorang muslim wajib mengonsumsi makanan atau barang yang halalan thayyiban. Banyak orang memahami halalan thayyiban dengan arti “halal lagi baik”. Perhatian sebagian besar masyarakat Muslim terhadap kehalalan yang mereka konsumsi semakin meningkat. Paham akan makna halalan thayyiban sangat penting untuk menuju cara beragama yang bijak.

Menurut Mu’jam al Wasith, halal makanan maupun barang konsumsi adalah barang tersebut tidak haram dan tidak dilarang agama. Keharaman suatu benda dibagi menjadi dua aspek. Pertama, haram secara materi atau telah dinyatakan haram oleh syariat, seperti babi, bangkai, dan darah. Kedua, haram bukan dari wujudnya, tapi dari cara memperoleh, atau mengolah barang tersebut.

Jelaskan Pengertian Halalan Thayyiban

Jelaskan pengertian halalan thayyiban

Syekh Ar-Raghib al-Isfahani dalam Mu’jam Mufradat li Alfadhil Qur’an menerangkan makna thayyib, secara umum artinya adalah “sesuatu yang dirasakan enak oleh indra dan jiwa”. Kata ini merupakan derivasi dari kata thâba – yathîbu – thayyiban. Beberapa makna kata ini adalah “suci dan bersih”, “baik dan elok”, “enak”, serta dalam konteks fiqih, thayyib kadang dimaknai sebagai halal juga.

Dalam Al-Qur’an kata thayyib seing disebutkan dalam berbagai bentuk kata, yaitu dengan lafal thayyiban, thayyibah, dan thayyibât. Salah satu ayat yang menyebutkan halalan thayyiban adalah QS al-Baqarah ayat 168:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَات الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ

Artinya: “Wahai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan adalah musuh yang nyata bagi kalian” (QS al-Baqarah: 168).

Makna ‘baik’ dari lafal thayyib ini masih menjadi perdebatan banyak ulama. Kategori apa menjadikan suatu barang dipandang ‘baik’? Banyak ulama terutama dari kalangan ahli tafsir, berbeda pendapat. Beberapa tafsir menyoroti dari sisi kebahasaan, bahwa kata thayyib adalah halal itu sendiri. Jadi kewajiban mengkonsumsi makanan halal itu dikuatkan lagi dengan kata thayyiban setelahnya.

Baca juga:  Niat Sholat Isya Lengkap Dengan Bacaan dan Artinya

Imam Ibnu Jarir ath-Thabari menerangkan dalam karyanya Jami’ Al Bayan fi Ta’wil Ay al Qur’an, maksud kata thayyiban adalah suci, tidak najis lagi tidak haram. Imam Ibnu Katsir berpendapat dalam Tafsir Al-Qur’an al ‘Adhim, bahwa halalan thayyiban terdapat dalam Surat al-Baqarah. Sebagai berikut:

مستطابا في نفسه غير ضار للأبدان ولا للعقول

“Sesuatu yang baik, tidak membahayakan tubuh dan pikiran” (Imam Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’an al ‘Adhim, [Beirut: Dar Ihya’ Al Kutub al Arabiyyah] jilid I, hal. 253)

Imam Al-Qurthubi, dalam tafsirnya Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an menjelaskan, kata halalan merupakan objek (maf’ul) dan kata thayyiban merupakan penjelas (hâl). Status halal suatu barang atau makanan diperlukan karena ia inhilal (membebaskan) dari larangan yang ada untuk mengonsumsi sesuatu. Kata thayyib juga merujuk kepada Imam al-Syafi’i, adalah sesuatu yang nikmat dan baik untuk dikonsumsi.