Jika saham turun apa yang harus dilakukan?

Saat berinvestasi, banyak pemula panik dan bingung jika saham turun apa yang harus dilakukan, sehingga mereka sering mengambil keputusan emosional yang akhirnya merugikan. Padahal, penurunan harga saham adalah hal yang normal dalam dunia investasi. Yang penting bukan menghindari penurunan, tetapi mengetahui langkah yang tepat ketika itu terjadi. Artikel ini akan membahas secara lengkap apa yang harus dilakukan dan bagaimana menyikapinya secara bijak.

Mengapa Saham Bisa Turun? (Pemahaman Dasar Wajib)

Sebelum mengetahui jika saham turun apa yang harus dilakukan, pahami dulu penyebabnya.
Beberapa alasan umum penurunan harga saham:

1. Ekonomi Melemah atau Inflasi Tinggi

Ketika ekonomi global maupun domestik melemah, pasar saham sering ikut terkoreksi.

2. Kinerja Perusahaan Menurun

Laba menurun, gagal ekspansi, atau manajemen buruk memengaruhi harga saham.

3. Sentimen Negatif Pasar

Rumor, berita buruk, ketakutan investor, hingga kebijakan pemerintah bisa memicu aksi jual.

4. Koreksi Wajar (Market Correction)

Kenaikan terlalu cepat biasanya diikuti oleh penurunan sementara.

Jika Saham Turun Apa yang Harus Dilakukan? Ini Langkah Paling Tepat

Berikut langkah yang dapat kamu lakukan berdasarkan analisis para investor berpengalaman.

1. Tetap Tenang dan Jangan Panik

Panik hanya membuat kamu menjual di harga rendah. Investor bijak selalu memutuskan berdasarkan data, bukan emosi.

2. Analisis Penyebab Penurunan Saham

Cek apakah penurunan terjadi karena:

  • Sentimen sementara
  • Kinerja perusahaan buruk
  • Faktor eksternal global
  • Koreksi pasar

Jika hanya sentimen, biasanya harga pulih kembali.

3. Cek Fundamental Perusahaan Lagi

Ini langkah terpenting dalam memahami jika saham turun apa yang harus dilakukan.

Periksa:

  • Laporan keuangan
  • Rasio utang
  • Pertumbuhan pendapatan
  • Prospek industri

Jika fundamental tetap kuat, tidak ada alasan panik.

4. Gunakan Strategi DCA (Dollar Cost Averaging)

DCA membantu kamu membeli saham secara bertahap, sehingga harga rata-rata menjadi lebih stabil.

Contoh: beli rutin setiap bulan.

5. Jangan Menjual Ketika Harga Turun Tajam

Menjual saat turun hanya mengunci kerugian.
Tanyakan pada diri sendiri:

  • Apakah saya membeli dengan analisis yang benar?
  • Apakah perusahaan masih bagus?

Jika iya → tahan atau tambah posisi.

6. Evaluasi Tujuan Investasi Jangka Panjang

Tentukan tujuan:

  • Pensiun
  • Dana pendidikan
  • Dana masa depan

Ketika tujuan jangka panjang jelas, fluktuasi jangka pendek tidak mengejutkan.

7. Diversifikasi Portofolio

Jangan hanya menyimpan satu atau dua saham.
Diversifikasi ke:

  • Sektor berbeda
  • Saham blue chip
  • Reksadana
  • Emas

Internal Link → Tambahkan link ke artikel kamu yang lain (misalnya “Cara Bendahara Mengatur Keuangan” atau “Apa itu Dividen”).

8. Beli Lagi Saat Harga Diskon (Jika Fundamental Bagus)

Buy the dip hanya boleh dilakukan jika perusahaan:

  • Sehat
  • Laba tumbuh
  • Prospek cerah
  • Tidak ada masalah besar

Inilah cara investor besar memanfaatkan penurunan.

9. Jika Kamu Trader – Gunakan Stop Loss

Trader wajib disiplin dengan batas kerugian.

Misalnya:

  • Stop loss 3–5%
  • Target profit jelas
  • Money management ketat

10. Jangan Ikuti Kepanikan di Media Sosial

Market noise atau opini tanpa data sering menjerumuskan.
Gunakan analisis pribadi, bukan ikut kerumunan.

Contoh Situasi Nyata: Saham Turun, Apa yang Harus Dilakukan?

Jika kamu membeli saham BBRI, kemudian harga turun karena IHSG terkoreksi, langkah terbaik:

  1. Jangan panik
  2. Analisis penyebab
  3. Cek fundamental BBRI (tetap kuat)
  4. Buy the dip bertahap
  5. Pegang untuk jangka panjang

Hasilnya? Ketika koreksi berakhir, saham pulih dan memberi keuntungan.

Kesimpulan: Jika Saham Turun Apa yang Harus Dilakukan?

Penurunan saham bukan akhir, tetapi justru kesempatan.
Ringkasannya:

  • Tetap tenang
  • Analisis penyebab
  • Periksa fundamental
  • DCA
  • Jangan jual panik
  • Diversifikasi
  • Tambah posisi jika bagus
  • Gunakan stop loss untuk trading

Dengan pola pikir benar, penurunan bukan ancaman tetapi peluang.