skip to Main Content
1-800-987-654 admin@totalwptheme.com Open 7AM - 8PM

Perlawanan Rakyat Maluku Melawan Penjajahan

Perlawanan rakyat maluku merupakan perjuangan yang dilakukan terhadap penjajahan yang dilakukan kolonial Portugis dan VOC serta Belanda. Kedatangan bangsa asing tersebut karena maluku kaya akan rempah-rempah seperti cengkeh, pala dan lada. Rempah-rempah tersebut sangat dibutuhkan bangsa barat sebagai bahan untuk membuat makanan dan minuman penghangat badan.

Sebelum sampai di maluku Portugis terlebih dahulu menaklukan selat malaka yang merupakan jalur perdagangan penting rempah-rempah. Kemudian bangsa Portugis mengutus Diogo Lopes de Sequeira untuk menemukan Malaka. Sequeira sampai di Nusantara pada tahun 1509. Mulanya Sequeira disambut secara baik oleh Sultan Mahmud Syah sebagai penguasa Kesultanan Malaka. Pedagang Islam internasional yang ada berusaha meyakinkan Sultan bahwa Portugal merupakan ancaman berat. Sultan Mahmud Syah pun berbalik melawan Sequeira sehingga kapal Portugis akhirnya berlayar kembali ke laut lepas.

Portugis akhirnya berhasil mengalahkan Kesultanan Malaka karena mereka sedang sibuk dengan konfliknya sendiri. Setelah menetap tak berapa lama di Malaka Portugis berlayar menuju timur nusantara di bawah pimpinan Francisco Serrao. Kapal Portugus tiba di Hitu tahun 1512, tepatnya di Ambon sebelah utara. Kedatangan Portugis mendapat sambutan yang baik karena membeli rempah-rempah serta membawa bahan pangan.

Kapan terjadinya perlawanan rakyat Maluku

Pada masa tersebut, dua kesultanan besar di Maluku yaitu Ternate dan Tidore dalam keadaan saling bermusuhan. Portugis berusaha memperluas pengaruhnya lewat cara bersekutu dengan Kerajaan Ternate pada tahun 1522. Portugis mulai membangun benteng pertahanan di maluku dan melakukan kristenisasi. Tindakan Portugis membuat hubungan mereka dengan penguasa yang beragama Islam menjadi tegang. Penguasa Portugis menjadi sewenang-wenang juga terlalu campur tangan dengan urusan kerajaan-kerajaan. Portugis menjadi semakin serakah ingin memonopoli perdagangan rempah-rempah. Hal ini mengakibatkan terjadinya perlawanan rakyat Maluku.

Perlawanan rakyat maluku terhadap portugis

Tahun 1565 Sultan Khaerun memimpin rakyat Ternate melakukan pelawanan terhadap portugis. Sultan Khaerun mengajak seluruh rakyat untuk mengangkat senjata melawan bangsa Portugis. Perlawanan rakyat yang gagah berani membuat Portugis kewalahan dan merasa sangat terancam. Portugis meminta untuk diadakan perundingan dengan Sultan Khaerun pada tahun 1570. Perundingan tersebut dilaksanakan di Benteng Sao Paolo dan Portugis sudah menyiapkan sebuah rencana jahat. Sultan Khaerun yang datang tanpa pengawalan ditipu dengan ditangkap dan dibunuh oleh Portugis.

Putera Sultan Khaerun yaitu Sultan Baabullah melanjutkan perlawanan terhadap Portugis. Kesultanan Ternate, Tidore, dan seluruh rakyat Maluku bersatu melakukan serangan besar-besaran. Pada tahun 1574, kesultanan Ternate berhasil merebut dan melumpuhkan benteng Portugis. Tahun 1575 Portugis semakin terdesak dan akhirnya diusir dari Ternate. Portugis masih bertahan di Indonesia bagian timur sampai tahun 1605 hingga akhirnya meninggalkan nusantara. Perlawanan rakyat Ternate berhasil mempertahankan kemerdekaannya dari penjajahan Portugis.

Perlawanan rakyat maluku terhadap penjajahan belanda

Kesultanan Ternate mengalami masa kejayaan dalam pimpinan Sultan Baabullah. Kesultanan memelihara persatuan dan menjalin kerja sama dengan kerajaan Demak dan Aceh sebagai poros Nusantara untuk menolak kolonialisme Barat.

Setelah Sultan Baabullah wafat pada 1583 meninggalkan luka mendalam bagi rakyat maluku. Tak ada lagi pemimpin seperti Sultan Baabullah sehingg membuat Maluku mengalami kemunduran. Hal ini membuat musuh lama, yaitu Portugis berusaha untuk menguasai bumi Maluku. Upaya Portugis tidak dapat dibendung oleh Kesultanan Ternate dan Maluku disekitarnya. Hal ini menyebabkan Ternate harus meminta bantuan dari luar.

Belanda beserta armadanya bersedia menolong, namun dengan bayaran mahal yang menjadi penyesalan rakyat Maluku. Portugis berhasil ditumpas berkat bantuan belanda. Namun ini menjadi awal dari monopoli Belanda (VOC) di tanah maluku. Pada tahun 1607 terjadi perjanjian kontrak monopoli dagang VOC atas imbalan bantuan dari bantuan Belanda.

Berapa lama masa perjuangan rakyat Maluku

Lebih dari 300 tahun lamanya Belanda menguasai tanah Maluku dengan leluasa membuat peraturan yang merugikan rakyat. Keadaan ini menyebabkan kekecewaan dan penderitaan bagi rakyat maluku. Rakyat Maluku melakukan perlawanan terhadap penjajah belanda sepanjang abad ke-15. Perlawanan tersebut dipimpin oleh Salahakan Hulu pada 1635 dan Sultan Sibori pada 1675. Perlawanan tersebut dapat ditumpas sehingga pada 1683 Sultan Sibori dengan terpaksa mengakhiri masa Kesultanan Ternate. Negara berdaulat Kesultanan Ternate diganti dengan kerajaan independen Belanda.

Siapa pahlawan rakyat Maluku

Pahlawan rakyat maluku yang terkenal dalam menentang penjajahan Belanda adalah Thomas Matulesi atau Kapitan Pattimura. Perlawanan Pattimura terjadi pada tahun 1817 dengan bantuan pahlawan lainnya yaitu: Anthonie Rhebok, Said Perintah, Lucas Latumahina, Thomas Pattiwael, dan Ulupaha. Pahlawan maluku terdapat pula seorang putri bernama Christina Martha Tiahahu. Pusat perjuangan rakyat maluku berada di Pulau Saparua.

perlawanan rakyat maluku

 

Bagaimana perjuangan yang dilakukan Pattimura

Pada tanggal 15 Mei 1817 tepatnya malam hari, Pattimura bersama rakyat mulai bergerak melakukan penyerangan. Rakyat membakar kapal-kapal Belanda yang ada di pelabuhan Porto serta mengepung Benteng Duurstede. Residen Van den Berg yang berada dalam Benteng Duurstede ditembak mati dalam peperangan. Hari berikutnya, tanggal 16 Mei 1817, pasukan Pattimura berhasil merebut dan menduduki Benteng Duurstede.

Perlawanan yang bermula dari Saparua akhirnya menyebar ke pulau-pulau lain. Haruku, Seram, Larike, Uring, Asilulu, dan Wakasihu juga melakukan perlawanan. Dalam menghadapi perlawanan rakyat maluku Pemerintah Belanda mendatangkan pasukan bantuan. Pada tanggal 19 Mei 1817, pasukan bantuan didatangkan dari Ambon ke Haruku. Pasukan belanda bermarkas di Benteng Zeelandia. Namun Raja Haruku serta raja-raja daerah sekitarnya sudah bersiap untuk menghadapinya. Rakyat Haruku dan raja-raja di daerah sekitarnya melakukan menyerang ke benteng Zeelandia.

Kolonial Belanda kembali mendatangkan pasukan bantuan ke Saparua pada awal bulan Juli 1817. Pasukan belanda berusaha merebut kembali Benteng Duurstede, namun tidak berhasil. Kolonial Belanda mengajak para pemimpin Maluku untuk berunding. Perundingan tersebut juga tidak membawa hasil. Pertempuran pun berkobar lagi.

Belanda mendatangkan pasukan bantuan ke Saparua kembali Pada akhir Juli 1817. Belanda mengerahkan kapal-kapalnya. Dan mulai melepaskan tembakan meriam dengan gencar ke arah Benteng Duurstede, yang masih diduduki oleh pasukkan Pattimura. Sementara itu, pasukan-pasukan Belanda terus menerus didatangkan, membanjiri Saparua.

Benteng Duurstede dapat direbut oleh Belanda kembali pada bulan Agustus 1817. Tetapi perang belum berakhir. Pasukan Pattimura melanjutkan kembali perlawanan dengan perang gerilya. Pemerintah Belanda mengumumkan akan memberi hadiah sebesar 1.000 gulden kepada siapa saja yang dapat menangkap Pattimura. Dan untuk menangkap pemimpin-pemimpin Maluku lainnya, Pemerintah Belanda menyediakan 500 gulden tiap seorang pemimpin. Tetapi rakyat Maluku tidak mau untuk mengkhianati perjuangan bangsanya.