Persamaan Pantun Syair dan Gurindam

Persamaan pantun syair dan gurindam | Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki oleh bangsa Indonesia adalah pantun, syair, dan gurindam. Budaya syair dan gurindam di Indonesia pernah mengalami masa-masa kejayaan pada tempo dahulu. Pada masa itu pernah lahir karya-karya sastra yang fenomenal dan memiliki tokoh yang dicatat dalam sejarah. Pada masa itu pernah lahir Gurindam dua belas karya Raja Ali Haji. Chairil Anwar sebagai pelopor penyair angkatan 45 dengan puisinya yang berjudul AKU. Banyak lagi karya sastra terkenal lainnya dan tokoh-tokohnya.

Sayangnya dizaman milenium, kebudayaan usang ini telah terpinggirkan bahkan nyaris tenggelam. Kesenian ini sudah sangat jarang tampil ke tengah publik. Pantun dan gurindam hanya tampil ketika ada acara adat dan kesenian. Syair dan puisi kurang diminati oleh kaum milenial karena dianggap sudah “tidak jamannya lagi”. Padahal pada tempo dulu syair dan puisi digunakan anak muda untuk menyampaikan perasaan pada orang terkasih.

Persamaan pantun syair dan gurindam

Persamaan dari ketiga karya sastra ini adalah sebagai jenis puisi lama, mempunyai fungsi sebagai nasehat, terkandung nilai moral dan agama. Persamaan lainnya adalah ketiga terdiri atas bait-bait walaupun jumlah barisnya berbeda. Ketiga karya sastra ini memiliki rima akhir yang sama atau persamaan bunyi pada akhir barisnya.

Pantun, peran dan filosofi

Pantun adalah salah satu jenis puisi lama yang sangat luas dikenal dalam bahasa-bahasa Nusantara. Pantun mempunyai asal kata “patuntun”, dalam bahasa Minangkabau memiliki arti “penuntun”. Pantun dalam bahasa Jawa disebut dengan paparikan dan dalam bahasa Batak, pantun disebut dengan umpasa. Pada awalnya pantun adalah sastra lisan, tapi sekarang dijumpai juga pantun yang tertulis. Pantun biasanya tidak mempunyai nama penggubahnya, sehingga tidak diketahui pantun tersebut dibuat oleh siapa.

Baca juga:  Mengapa Kerajaan Sriwijaya Disebut Sebagai Kerajaan Maritim

Pantun mempunyai peran sebagai alat pemelihara bahasa, penjaga fungsi kata dan kemampuan menjaga alur berpikir. Pantun mengajarkan seseorang berpikir tentang arti kata sebelum berujar. Pantun mengajarkan orang berpikir asosiatif, bahwa suatu kata bisa memiliki kaitan dengan kata yang lain. Pantun secara sosial memiliki fungsi pergaulan yang kuat dan biasanya sangat dihargai. Kecepatan seseorang dalam berpikir dan bermain-main dengan kata ditunjukan pada pantun.

Dalam kebudayaan suku Minangkabau, pantun digunakan dalam berbagai acara adat. Acara manjapuik marapulai, batagak gala, batagak penghulu, atau dalam pidato upacara adat lainnya. ”Adat berpantun, pantang melantun” merupakan filosofi yang tidak terpisahkan dari pantun. Peribahasa dalam pantun mengisyaratkan nilai-nilai sosial dan bukan imajinasi semata.

Syair, dari Arab ke Melayu

Syair merupakan salah satu jenis puisi yang berasal dari bahasa Arab “syu’ur” yang memiliki arti “perasaan”. Syair dalam sastra Melayu berdasarkan pengertian adalah puisi secara umum. Pada perkembangannya syair mengalami berbagai perubahan sehingga syair di desain sesuai dengan keadaan dan situasi yang terjadi.

Syair dalam perkembangannya di Asia Tenggara mengalami perubahan sehingga identik dengan Melayu, Perubahan tersebut membuat syair tidak lagi mengacu pada tradisi sastra Arab. Penyair yang memiliki peran besar membentuk syair khas Melayu adalah Hamzah Fansuri. Karya Hamzah Fansuri, antara lain: Syair Perahu, Syair Burung Pingai, Syair Dagang, dan Syair Sidang Fakir.

Gurindam

Gurindam merupakan bentuk puisi lama yang terdiri dari dua bait, tiap bait terdiri dari 2 baris kalimat dengan rima yang sama, yang merupakan satu kesatuan yang utuh. Gurindam awalnya dibawa oleh Umat Hindu atau memiliki pengaruh sastra Hindu. Gurindam berasal dari BAHASA TAMIL (INDIA) yaitu KIRINDAM yang berarti mula-mula amsal, perumpamaan. Baris pertama berisikan semacam soal, masalah atau perjanjian dan baris kedua berisikan Jawaban nya atau akibat dari masalah atau perjanjian pada baris pertama tadi.

Baca juga:  Susunan Organisasi BPUPKI

Gurindam seperti berikut ini:

Barang siapa tiada memegang agama,
Sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama.

Barang siapa mengenal yang empat,
Maka ia itulah orang yang ma’rifat.

Gendang gendut tali kecapi
Kenyang perut senang hati

Raja Ali Haji adalah pengarang gurindam yang terkenal dengan karyanya yang berjudul “Gurindam Dua Belas”. Karya Raja Ali Haji ini terdiri dari 12 Fasal dan dikategorikan sebagai Syi’r al-Irsyadi atau puisi didaktik. Gurindam ini berisikan nasihat dan petunjuk menuju hidup yang diridai oleh Allah swt.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *