skip to Main Content
1-800-987-654 admin@totalwptheme.com Open 7AM - 8PM

Properti Tari Jaipong dan Musik Pengiring

Properti tari jaipong merupakan perlengkapan yang harus digunakan saat memainkan tarian ini. Jaipongan merupakan tari pergaulan tradisional masyarakat Sunda, karawang, Jawa Barat. Tari jaipong merupakan hasil proses kreatif dari H. Suanda sekitar tahun 1976 di Karawang. Jaipongan merupakan gabungan beberapa seni tradisi Karawang, yaitu wayang golek, topeng banjet, pencak silat, ketuk tilu dan lain-lain. Jaipongan mendapat sambutan hangat dan menjadi sarana hiburan masyarakat Karawang. Tari jaipong mendapatkan apresiasi yang cukup besar dari seluruh masyarakat Karawang serta menjadi fenomena baru seni budaya Karawang.

Properti tari jaipong

Tari jaipong memiliki perlengkapan sebagai berikut:

  • Sinjang, pakaian atau busana berupa celana panjang yang digunakan saat jaipongan
  • Sampur, selendang berupa kain panjang yang diletakkan di leher penari. Kain ini adalah properti utama tari jaipong, karena pada setiap gerakan pasti memainkan sampur.
  • Apok, baju atasan para penari yang memiliki kancing sepeti pakaian pada umumnya. Apok dihiasi dengan bordiran bunga – bunga yang terdapat pada sudut-sudut pakaian.

 

properti tari jaipong

Musik Pengiring Tari Jaipong

Seni pertunjukan rakyat ini didukung oleh unsur-unsur sederhana, seperti waditra yang meliputi rebab, kendang, dua buah kulanter, tiga buah ketuk, dan gong. Gerak-gerak tarinya yang tidak memiliki pola gerak yang baku serta kostum penari yang sederhana menjadi cerminan kerakyatan.

Sejarah Tari Jaipong

Menurut sejarah perkembangannya, kesenian ini muncul karena terpengaruh oleh dansa Ball Room dari Barat. Dansa ala barat ini populer dikalangan elit daerah perkotaan. Untuk membendung pengaruh barat ini, ditengah masyarakat muncul tari pergaulan yang sesuai dengan tradisi lokal. Pertunjukan tari pergaulan tradisional ini tak lepas dari keberadaan ronggeng dan pamogoran. Kesenian Ronggeng beralih fungsinya dari kegiatan upacara menjadi hiburan atau cara bergaul.

Dengan hadirnya ronggeng dalam seni pertunjukan mengundang simpati kaum pamogoran. Pamogoran adalah penonton yang berperan aktif dalam seni pertunjukan Ketuk Tilu/Doger/Tayub. Tari Ketuk Tilu yang terkenal dalam masyarakat Sunda, populer sekitar tahun 1916.

Beberapa tahun kemudian kesenian ronggeng mulai memudar. Para mantan pamogoran beralih perhatiannya pada seni pertunjukan Kliningan. Di daerah Pantai Utara Jawa Barat (Karawang, Bekasi, Purwakarta, Indramayu, dan Subang) terkenal dengan sebutan Kliningan Bajidoran. Tari ini dari segi pola maupun peristiwa pertunjukannya hampir sama dengan kesenian sebelumnya (Ketuk Tilu/Doger/Tayub). Selanjutnya keberadaan tari-tarian dalam Topeng Banjet cukup digemari, khususnya di Karawang. Beberapa pola gerak Bajidoran diambil dari tarian dalam Topeng Banjet ini.

Gerakan tari Jaipongan

Berdasarkan gerakan dari tari Kliningan masih menampilkan pola-pola tradisi (Ketuk Tilu). Pola ini memiliki unsur gerak-gerak bukaan, pencugan, nibakeun dan beberapa ragam gerak mincid. Pola gerakan ini akhirnya menjadi dasar penciptaan tari Jaipongan. Beberapa pola dasar tari Jaipongan selain dari Ketuk Tilu, Ibing Bajidor serta Topeng Banjet adalah Tayuban dan Pencak Silat.

Pada tahun 1976 Jaipongan menjadi pesat perkembangannya, dibuktikan dengan munculnya rekaman jaipongan SUANDA GROUP. Rekaman ini memiliki instrumen sederhana yang terdiri dari gendang, ketuk, kecrek, goong, rebab dan sinden atau juru kawih. Dengan media kaset rekaman ini jaipongan mulai dipopulerkan oleh bapak Suanda di wilayah Karawang dan sekitarnya.