Selat Dardanela Merupakan Salah Satu Batas Pemisah Antara

Selat Dardanela Merupakan Salah Satu Batas Pemisah Antara

Selat Dardanela merupakan salah satu batas pemisah antara benua Eropa dengan benua Asia. Selat Dardanela awalnya dikenal sebagai Hellespontos (bahasa Yunani: Ελλήσποντος, Hellespontos (pengucapan bahasa Inggris: [ˈhelɪspɒnt]). Secara harfiah bermakna “laut Helle” adalah selat sempit di Turki bagian barat daya yang menghubungkan Laut Aigea dengan Laut Marmara.

Selat Dardanela adalah salah satu Selat di Turki, bersama dengan Selat Bosporus. Letak selat ini adalah di 40°13′N 26°26′E. Panjang dari selat ini mencapai 61 KM (38 mi) tetapi lebarnya hanya 1.2 sampai 6 KM (0.75 to 3.7 mi). Kedalaman rata-ratanya adalah 55 meer (180 ft) dengan kedalaman maksimum mencapai 82 meter (300 ft). Air mengalir ke dua arah di selat ini, dari Laut Marmara ke Laut Aigea melalui arus permukaan dan mengalir ke arah yang berlawanan melalui arus bawah laut.

Selat Dardanela merupakan salah satu batas pemisah antara

Seperti halnya Selat Bosporus, Selat Dardanela merupakan salah satu batas pemisah antara benua Eropa (semenanjung Gallipoli) dari benua Asia. Selat ini adalah perairan internasional, dan bersama dengan Bosporus, selat ini menghubungkan Laut Hitam dengan laut Tengah. Selat ini sangat strategis karena menjadi penghubung antara Eropa dan Asia. Tercatat dalam sejarah daerah ini menjadi daerah pertempuran antara lain Perang Troya pada zaman yunani kuno serta Kampanye Gallipoli saat Perang Dunia I.

Jalur Pelayaran Penting

Selat Dardanela menjadi jalur pelayaran penting dalam sejarah Eropa. Hal ini karena menghubungkan Laut Hitam (dan negara sekitarnya seperti Bulgaria, Ukraina, Russia dan Georgia) dengan Laut Mediterania. Lokasinya yang strategis membuat banyak pelayaran di selat ini. Hal ini membuat Selat ini dan Selat Bosporus menjadi faktor yang membuat Konstantinople (sekarang Istanbul), sebagai kota terbesar di Abad Pertengahan. Konstantinople juga menjadi ibukota Kekaisaran Romawi Timur, dan setelah tahun 1453, menjadi ibukota Kekaisaran Turki Usmani. Kota ini juga menjadi pusat keagaamaan Kristen Orthodox, sebagai tempat Patriach Konstantinople, salah satu pemimpin tertinggi agama Kristen Orthodox.

Baca juga:  Keunikan Pakaian Adat Jawa Barat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *